Khilafatul Muslimin Daulah Sumatera

Semoga Alloh Meridhoi setiap langkah kita.

Rahmatan Lil Alamin

Bersatu Wajib dan Haram berpecah belah

Besabar dan bertakwa

Sungguh Alloh sebaik baik penolong kepada hambanya yang beriman dalam mengerjakan kebajikan.

Alloh maha mengetahui apa yang mereka perbuat

Alloh akan menolong siapa saja yang berlaku jujur serta meninggalkan perbuatan yang tidak terpuji.

Khalifah adalah ulil amri umat islam sedunia

Tanpa kepemimpinan mustahil umat islam bisa bersatu, dan mustahil hukum Alloh bisa di tegakkan tanpa adanya kepemimpinan dan persatuan umat islam (berkhilafah).

Sabtu, 02 Maret 2024

3 Maret 1924, merupakan ‘Tanggal Berdarah

Pada 27 Rajab atau bertepatan 3 Maret 1924, ini merupakan tanggal pilu yang akan selalu diingat oleh seluruh kaum muslimin. Keruntuhan Khilafah 100 tahun lalu adalah peristiwa penting yang tidak boleh luput dari ingatan umat Islam. Mengingat 3 Maret 1924, merupakan ‘Tanggal Berdarah’ yang harus direnungi Umat Islam. Perisai yang selama ini menjaga kehormatan, nyawa, harta, dan jiwa mereka, telah ditumbangkan oleh Mustafa Kemal Attaturk dengan konspirasi busuknya. 100 tahun sudah umat Islam tak lagi hidup dibawah naungan yang agung yaitu sistem Khilafah. Akibat semua itu, penderitaan dan penjajahan umat Islam tak terbendung lagi.

Kita tak pernah lupa, penderitaan umat Islam sebagai kaum minoritas di Cina. Pemerintah Cina menindas sejumlah besar warga suku Uighur, kelompok muslim minoritas di negeri itu, ditahan di kamp-kamp khusus. Kesengsaraan dan kesulitan hidup mereka rasakan sudah bertahun-tahun akibat genosida massal yang dilakukan Pemerintah Cina.

Bukan hanya itu, yang lebih memprihatinkan adalah perang yang terjadi antar saudara sesama Muslim di Afganistan, Yaman, dan Suriah akibat dipicu provokasi negara-negara Barat di berbagai belahan dunia ketika Khilafah tidak ada.


Ironi Runtuhnya Khilafah

Faktanya, ini hanya sebagian kecil dari penderitaan umat Islam yang muncul dipermukaan, masih banyak yang belum diberitakan di media massa. Dunia juga tahu, bahwasannya umat Islam tidak lagi menjadi umat terbaik. Mereka saat ini mengalami kerusakan dari berbagai aspek kehidupan. Faktor utamanya adalah karena umat Islam telah kehilangan perisainya, yaitu Khilafah Islamiyah.

Pasca Khilafah Turki Utsmani berakhir, yang diruntuhkan oleh konspirasi Barat, kondisi umat Islam mengalami degradasi hingga hari ini. Umat terpuruk di segala bidang, termasuk bidang ekonomi, sosial, kesehatan, hukum dan keadilan, termasuk keamanan. Ironis, kita melihat begitu mandulnya dalam menjaga kehormatan, darah, harta dan, jiwa umat Islam. Inilah gerbang malapetaka bagi umat islam. Berbagai penjajahan fisik dan pemikiran kini mendera dalam kehidupan umat manusia.

Umat Islam saat ini menjadi ‘santapan’ kaum kafir penjajah. Mereka mendapatkan tindakan diskriminatif hanya karena sebagai kaum minoritas. Tindakan refresif yang mendera umat islam, tidak hanya terjadi di dalam negeri namun juga di luar negeri, utamanya di negeri-negeri Islam yang terpecah-pecah menjadi kecil. Kita bisa melihat Suriah, Palestina, Rohingya, Uighyur dan sebagainya, ini menjadi bukti bahwa saat ini umat Islam masih mengalami penderitaan. Tidak ada pembelaan yang ditunjukan untuk melindungi mereka, baik dari penguasanya sendiri maupun tentara-tentara Muslim Lainnya. Menyadari kondisi ini, kita dapat menyimpulkan umat saat ini, bukan lagi umat yang terbaik. Namun menjadi umat yang terbelakang, tertindas, terjajah, dan terpuruk. Hal ini harus menjadi perhatian penting bagi seluruh umat Islam.

Pasca Runtuhnya Khilafah, permasalahan terus saja mengampiri umat Islam. Harus ada langkah aktif yang wajib diambil untuk kembali memperjuangkan predikat “umat terbaik”. Predikat ini adalah predikat yang tercantum dalam Al Qur’an serta balasan atas janji Allah Swt. dan kabar gembira dari Rasulullah Saw. terhadap umatnya. Umat islam mesti memahami bahwa menegakkan Khilafah Islam wajib diupayakan.

Umat Islam harus bersuara lantang menyuarakan Khilafah sebagai solusi dari permasalahan umat. Karena Khilafah akan mampu mengantarkan umat Islam pada kegemilangan dunia. Umat mesti berjuang untuk menegakkan penerapan hukum-hukum Allah di muka bumi ini.

Namun, apalah yang terjadi di negeri ini. Beberapa dekade terakhir, ketika isu Khilafah mulai diangkat lagi. Ada yang pro dan kontra terhadap ide atau gagasan tersebut. Di media massa, para pejuang Khilafah senantiasa diberitakan buruk dan umat difitnah. Beberapa orang dari latar belakang keilmuannya menolak Khilafah serta mereka menafikan bahwa sistem terbaik ini bukan ajaran islam. Sistem Islam ini dianggap sebagian orang sebagai ancaman bagi persatuan bangsa dan keutuhan negara.

Serangan terhadap ide-ide Khilafah semakin gencar dilakukan, hal ini pun dilakukan oleh penguasa-penguasa Muslim lainnya. Kriminalisasi ajaran Islam terus-menerus digaungkan, berbagai tuduhan-tuduhan yang memojokkan ajaran Islam terus bergulir, bahkan para ulama yang lurus selalu dalam pengawasan.

Tentu semua ini tak lepas dari peran Barat dalam menghambat perjuangan penegakkan Khilafah. Kaum kafir memprediksi bahwa kebangkitan Islam tak lama lagi, wajar saja upaya keras meraka lakukan untuk membendung sistem Islam tegak kembali di dunia. Padahal, Khilafah adalah mahkota kewajiban yang harus diperjuangkan, agar Syariat Islam menjadi pedoman dalam menjalankan kehidupan.


Memahami Khilafah Sebagai Pelindung Umat

Khilafah adalah kepemimpinan umum bagi seluruh Kaum Muslimin di dunia untuk menegakkan syariat Islam dan mengemban dakwah ke segenap penjuru dunia. Kewajiban menegakkan Khilafah didasarkan pada perintah yang tegas di dalam Al-Qur’an, As-sunnah dan ijmak sahabat. Keberadaanya sebagai sistem kehidupan meniscayakan pada tegaknya hukum Syariah. Sebaliknya, ketiadaanya berkonsenkuensi pada lenyapnya hukum Syariah dan lahirnya kerusakan atau ummul jaraiy (induk kerusakan).

Tanpa khilafah eksistensi Islam sebagai solusi persoalan umat dan pembawa rahmat seluruh alam hilang. Mestinya umat memahami bahwa kekuatan Islam terletak pada sistem Khilafah.

Tidakkah kita merindukan masa kegemilangan Islam, yang menjadi mercusuar bagi peradaban dunia. Bahkan diakui oleh Will Durant, dalam The Story of Civilization, vol XIII, menulis: Para Khalifah telah memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya bagi kehidupan dan kerja keras mereka.

Para Khalifah itu juga telah menyediakan berbagai peluang untuk siapa pun yang memerlukannya dan memberikan kesejahteraan selama berabad-abad dalam wilayah yang sangat luas. Fenomena seperti ini belum pernah tercatat dalam sejarah setelah zaman mereka. Kegigihan dan kerja keras mereka menjadikan pendidikan tersebar luas, hingga lahirnya berbagai ilmu, seperti sastra, filsafat dan seni yang mengalami kemajuan pesat di masa Islam, hingga menjadikan Asia Barat sebagai bagian dunia yang paling maju peradabannya selama lima abad.

Imam Al-Ghazali pernah menyampaikan : “…agama adalah pondasi (asas) dan kekuasaan adalah penjaganya. Segala sesuatu yang tidak berpondasi niscaya akan roboh dan segala sesuatu yang tidak berpenjaga niscaya akan hilang lenyap. Kita bisa melihat bagaimana kondisi Umat Islam tanpa adanya Khilafah yang menaungi kehidupannya.

Rasulullah Saw. telah mengingatkan kita akan ketiadaan Khilafah. Beliau bersabda, “Barangsiapa yang mati sedangkan di pundaknya tidak ada baiat, maka matinya jahiliah.” (HR. Muslim)

Dengan demikian, diharapkan umat Islam antusias dalam memperjuangkan kewajiban agung ini. Karena dengan Khilafahlah, syariat Islam akan tegak secara kaffah.

Wallahu a’lam bi ash- shawwab.






 

Tanda Akhir Zaman dan Hari Kiamat

 


TANDA-TANDA KECIL KIAMAT

Oleh
Dr. Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil



1. DIUTUSNYA NABI MUHAMMAD SHALLALLAHU ALAIHI WA SALLAM
Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam telah mengabarkan bahwa diutusnya beliau merupakan pertanda dekatnya Kiamat, dan beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam dijuluki dengan Nabiyyus Saa’ah.

Dijelaskan dalam hadits dari Sahl Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

بُعِثْتُ أَنَا وَالسَّاعَةُ كَهَاتَيْنِ، وَيُشِيرُ بِإِصْبَعَيْهِ فَيَمُدُّ هُمَا.

‘Jarak diutusnya aku dan hari Kiamat seperti dua (jari) ini.” Beliau memberikan isyarat dengan kedua jarinya (jari telunjuk dan jari tengah), lalu merenggangkannya.’” [1]

Diriwayatkan dari Anas Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

بُعِثْتُ أَنَا وَالسَّاعَةُ كَهَاتَيْنِ.

‘Jarak diutusnya aku dan hari Kiamat seperti dua (jari) ini.’”

Anas Radhiyallahu anhu berkata, “Dan beliau menggabungkan jari telunjuknya dengan jari tengah.” [2]

Dan diriwayatkan dari Qais bin Abi Hazim dari Abu Jubairah secara marfu’:

بُعِثْتُ فيِ نَسْمِ [3] السَّاعَةِ.

“Aku diutus pada awal hembusan angin Kiamat (awal tanda-tanda Kiamat).” [4]

Jadi tanda Kiamat yang pertama kali adalah diutusnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Beliau adalah Nabi terakhir, tidak ada Nabi lain setelahnya, yang ada hanya Kiamat sebagaimana jari telunjuk dan jari tengah, di antara keduanya tidak ada lagi jari lain atau panjang salah satunya melebihi yang lain [5], hal ini sebagaimana diriwayatkan at-Tirmidzi:

بُعِثْتُ أَنَا وَالسَّاعَةُ كَهَاتَيْنِ، وَأَشَارَ أَبُو دَاوُدَ بِالسَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى، فَمَا فَضَّلَ إِحْدَاهُمَا عَلَى اْلأُخْرَى.

“Jarak antara diutusnya aku dan hari Kiamat seperti dua (jari) ini.” Abu Dawud memberikan isyarat dengan jari telunjuk dan jari tengahnya. Dia tidak melebihkan panjang salah satunya (kecuali hanya sedikit saja).” [6]

Dan di dalam riwayat Muslim: Syu’bah berkata, “Aku mendengar Qatadah berkata di dalam kisah-kisahnya, ‘Bagaikan kelebihan panjang salah satunya atas yang lain.’ Aku tidak tahu apakah beliau menyebutkannya dari Anas atau Qatadah yang mengatakannya.” [7]

Al-Qurthubi rahimahullah berkata, “Tanda Kiamat yang pertama adalah diutusnya Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, karena beliau adalah Nabi akhir zaman dan beliau telah diutus sementara tidak ada lagi Nabi di antara beliau dan hari Kiamat.” [8]

Allah Ta’ala berfirman:

مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَٰكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ

“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup Nabi-Nabi...” [Al-Ahzaab: 40]

[Disalin dari kitab Asyraathus Saa'ah, Penulis Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil, Daar Ibnil Jauzi, Cetakan Kelima 1415H-1995M, Edisi Indonesia Hari Kiamat Sudah Dekat, Penerjemah Beni Sarbeni, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir]
_______
Footnote
[1]. Shahiih al-Bukhari kitab ar-Riqaaq bab Qaulin Nabiyyi Shallallahu 'alaihi wa sallam Bu’itstu was Saa’atu ka Haataini dari Sahl Radhiyallahu anhu (XI/347, al-Fat-h).
[2]. Shahiih Muslim, kitab al-Fitan wa Asyraathus Saa’ah, bab Qurbus Saa’ah (XVIII/ 89-90, Syarah an-Nawawi).
[3]. (نَسْمُ السَّاعَةِ), Ibnul Atsir berkata, “Kata tersebut diambil dari kata (النَّسِيْمُ) yang berarti hembusan angin pertama kali yang lembut. Jadi maknanya adalah aku diutus di awal tanda-tanda Kiamat yang kecil, ada juga yang mengatakan kata tersebut merupakan bentuk jamak dari (نَسَمَةٌ) yang maknanya adalah aku diutus pada makhluk-makhluk yang diciptakan Allah menjelang terjadinya Kiamat,” seakan-akan beliau bersabda, “Di akhir penciptaan cucu Adam.” (An-Nihaayah fii Ghariibil Hadiits (V/49-50)).
[4]. HR. Ad-Daulabi di dalam al-Kunaa (I/23), dan Ibnu Mandah dalam al-Ma’rifah (II/234/2).
Syaikh al-Albani mengatakan, “Shahih.”
Hadits ini diriwayatkan pula oleh al-Hakim dalam al-Kunaa -sebagaimana diungkap dalam al-Fat-hul Kabiir- dan beliau tidak menghubungkannya kepada yang lain.
Lihat Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir (III/8, no. 2829) dan Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah (II/468, no. 808).
[5]. Lihat at-Tadzkirah (hal. 625-626), Fat-hul Baari (XI/349), dan Tuhfatul Ahwadzi Syarh at-Tirmidzi (VI/460).
[6]. Jaami’ at-Tirmidzi, bab Maa Jaa-a fii Qaulin Nabiyyi J Bu’itstu Ana was Saa’ah ka Haataini (VI/459-460), dan beliau berkata, “Hadits ini hasan shahih.”
[7]. Shahiih Muslim, kitab al-Fitan wa Asyraathus Saa’ah, bab Qurbus Saa’ah (XVIII/ 89, Syarh an-Nawawi).
[8]. At-Tadzkirah fii Ahwaalil Mautaa’ wa Umuuril Aakhirah (hal. 626).


2. WAFATNYA NABI SHALLALLAHU ALAIHI WA SALLAM
Di antara tanda-tanda Kiamat adalah wafatnya Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. Dijelaskan dalam hadits ‘Auf bin Malik Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

اُعْدُدْ سِتًّا بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ مَوْتِي...

‘Ingatlah (wahai ‘Auf) ada enam (tanda) sebelum datangnya hari Kiamat, kematianku....’” [1]

Kematian Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah musibah terbesar yang menimpa kaum muslimin. Dunia terasa gelap dalam pandangan para Sahabat radhiyallahu anhum ketika beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam wafat.

Anas bin Malik Radhiyallahu anhu berkata:

لَمَّا كَانَ الْيَوْمُ الَّذِي دَخَلَ فِيهِ رَسُـولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ؛ أَضَاءَ مِنْهَا كُلُّ شَـيْءٍ، فَلَمَّا كَانَ الْيَوْمُ الَّذِي مَاتَ فِيهِ؛ أَظْلَمَ مِنْهَا كُلُّ شَيْءٍ، وَمَا نَفَضْنَا عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اْلأَيْدِي -وَإِنَّا لَفِي دَفْنِهِ- حَتَّى أَنْكَرْنَا قُلُوبَنَا.

“Di hari kedatangan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam ke Madinah segala sesuatu bercahaya, lalu ketika tiba hari wafatnya segala sesuatu menjadi gelap, dan tidaklah kami selesai menepuk-nepukkan tangan karena Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam -ketika kami menguburnya- sehingga kami mengingkari hati kami (tidak menemukan keadaan seperti sebelumnya).” [2]

Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Maksudnya adalah mereka mendapati hati-hati mereka berubah dari yang mereka rasakan ketika masih bersama Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berupa keharmonisan, kejernihan, dan kelembutan. Hal itu karena mereka telah kehilangan segala hal yang diberikan oleh beliau berupa pengajaran dan pendidikan.” [3]

Dengan wafatnya beliau terputuslah wahyu dari langit, sebagaimana disebutkan dalam jawaban Ummu Aiman Radhiyallahu anhuma kepada Abu Bakar dan ‘Umar Radhiyallahu anhuma ketika mereka berdua mengunjunginya setelah Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam wafat. Sesampainya mereka berdua padanya, dia menangis, lalu keduanya bertanya, “Apa yang membuatmu menangis? Segala sesuatu yang ada di sisi Allah lebih baik bagi Rasul-Nya.” Kemudian ia menjawab, “Aku tidak menangis karena aku tidak tahu bahwa apa-apa yang ada di sisi Allah lebih baik bagi Rasul-Nya, akan tetapi aku menangis karena sesungguhnya wahyu dari langit telah terputus.” Hal itu menjadikan keduanya menangis, kemudian keduanya ikut menangis bersamanya.”[4]

Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam telah meninggal sebagaimana manusia lainnya meninggal karena Allah tidak menetapkan kekekalan bagi seorang makhluk pun di dunia ini. Dunia ini hanya tempat persinggahan bukan tempat untuk menetap, sebagai-mana difirmankan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala :

وَمَا جَعَلْنَا لِبَشَرٍ مِنْ قَبْلِكَ الْخُلْدَ ۖ أَفَإِنْ مِتَّ فَهُمُ الْخَالِدُونَ كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

“Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusia pun sebelum kamu (Muhammad), maka jika kamu mati, apakah mereka akan kekal? Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan.” [Al-Anbiyaa : 34-35]

Juga ayat-ayat lain yang menjelaskan bahwa kematian adalah haq (benar), dan setiap yang berjiwa pasti mati, walaupun dia seorang pemimpin para makhluk dan pemimpin orang-orang yang bertakwa, Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam.

Kematian beliau sebagaimana diungkapkan oleh al-Qurthubi, “Perkara pertama yang menimpa Islam... kemudian setelahnya adalah kematian ‘Umar. Dengan kematian Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam wahyu menjadi terputus, dan matilah kenabian. Kematian beliau adalah awal munculnya kejelekan dengan murtadnya orang-orang Arab, juga yang lainnya. Dan kematian beliau merupakan awal terputusnya kebaikan juga awal berkurangnya.

Abu Bakar ash-Shiddiq Radhiyallahu anhu berkata:

فَلْتَحْدُثَنَّ حَوَادِثٌ مِنْ بَعْدِهِ تُعْنَى بِهِنَّ جَوَانِحٌ وَصُدُوْرُ

Maka sungguh akan terjadi berbagai peristiwa setelahnya,
yang menyibukkan fikiran dan melelahkan

Shafiyyah binti ‘Abdil Muththalib Radhiyallahu anhuma berkata:

لَعَمْرُكِ مَا أَبْكِي لِفَقْدِهِ وَلَكِنْ مَا أَخْشَى مِنَ الْهَرْجِ آتِيَا

‘Demi Allah, tidaklah aku menangis karena kehilanganya,
akan tetapi karena aku takut pembunuhan yang akan datang setelahnya’” [5]

[Disalin dari kitab Asyraathus Saa'ah, Penulis Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil, Daar Ibnil Jauzi, Cetakan Kelima 1415H-1995M, Edisi Indonesia Hari Kiamat Sudah Dekat, Penerjemah Beni Sarbeni, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir]
_______
Footnote
[1]. Shahiih al-Bukhari, kitab al-Jizyah wal Muwaada’ah, bab Maa Yuhdzaru minal Ghadr (VI/277, al-Fat-h).
[2]. Jaami’ at-Tirmidzi, bab-bab al-Manaaqib (X/87-88, Tuhfatul Ahwadzi), at-Tirmidzi berkata, “Hadits ini shahih gharib.”
Syu’aib al-Arna-uth berkata, “Isnadnya shahih.” Lihat Syarhus Sunnah, karya al-Baghawi (IV/50) tahqiq Syu’aib al-Arna-uth.
Ibnu Hajar berkata, “Abu Sa’id berkata sebagaimana diriwayatkan oleh al-Bazzar dengan sanad yang jayyid, “Tidaklah kami menepuk-nepukkan tangan karena menguburnya sehingga kami meng-ingkari hati kami.” (al-Fat-h VIII/149).
[3]. Fat-hul Baari (VIII/149).
[4]. Shahiih Muslim, kitab Fadhaa-ilush Shahaabah g, bab Fadhaa-ilu Ummi Aiman x (XVI/9-10, Syarh an-Nawawi).
[5]. At-Tadzkirah, karya al-Qurthubi (hal. 629-630) dengan sedikit perubahan, dan lihat al-Idzaa’ah, karya Shiddiq Hasan, (hal. 67-69).


3. PENAKLUKAN BAITUL MAQDIS
Di antara tanda-tanda Kiamat adalah penaklukan Baitul Maqdis. Dijelaskan dalam hadits ‘Auf bin Malik Radhiyallahu anhu, beliau berkata, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

اعْدُدْ سِتًّا بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ... (فَذَكَرَ مِنْهَـا:) فَتْحُ بَيْتِ الْمَقْدِسِ.

‘Ingatlah (wahai ‘Auf) ada enam (tanda) sebelum datangnya hari Kiamat....’” (Lalu beliau menyebutkan salah satunya), “Penaklukan Baitul Maqdis.” [1]

Di zaman ‘Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu anhu sempurnalah penaklukan Baitul Maqdis, tepatnya pada tahun 16 Hijriyyah, sebagaimana disebutkan oleh para ahli sejarah. ‘Umar Radhiyallahu anhu pergi mengadakan perdamaian dengan penduduknya dan menaklukkannya, membersihkannya dari kaum Yahudi dan Nasrani, dan membangun masjid di arah kiblat Baitul Maqdis. [2]

Al-Imam Ahmad meriwayatkan dari jalan ‘Ubaid bin Adam, beliau berkata:

سَمِعْتُ عُمَرَ بْـنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ يَقُـولُ لِكَعْبٍ اْلأَحْبَارِ: أَيْنَ تُرَى أَنْ أُصَلِّيَ؟ فَقَالَ إِنْ أَخَذْتَ عَنِّي، صَلَّيْتَ خَلْفَ الصَّخْرَةِ، فَكَانَتِ الْقُدْسُ كُلُّهَا بَيْـنَ يَدَيْكَ. فَقَـالَ: عُمَرُ z ضَاهَيْتَ الْيَهُودِيَّةَ، لاَ، وَلَكِنْ أُصَلِّي حَيْثُ صَلَّى رَسُـولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَتَقَدَّمَ إِلَى الْقِبْلَةِ، فَصَلَّـى ثُمَّ جَاءَ، فَبَسَطَ رِدَاءَهُ، فَكَنَسَ الْكُنَاسَةَ فِـي رِدَائِهِ وَكَنَسَ النَّاسُ.

“Aku mendengar ‘Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu anhu berkata kepada Ka’ab al-Akhbar [3], ‘Ke arah manakah aku melakukan shalat?’ Lalu dia menjawab, ‘Jika engkau mengambil pendapatku, maka hendaklah engkau shalat di belakang batu, sedangkan Qudus seluruhnya ada di hadapanmu.’ ‘Umar berkata, ‘Apakah engkau menyerupai orang Yahudi? Tidak, akan tetapi aku akan melakukan shalat sebagaimana Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam melakukannya,’ lalu beliau maju ke arah kiblat kemudian shalat, lalu beliau datang dan menghamparkan selendangnya dan mengumpulkan kotoran ke selendangnya, dan orang-orang pun ikut membersihkan.” [4]

[Disalin dari kitab Asyraathus Saa'ah, Penulis Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil, Daar Ibnil Jauzi, Cetakan Kelima 1415H-1995M, Edisi Indonesia Hari Kiamat Sudah Dekat, Penerjemah Beni Sarbeni, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir]
_______
Footnote
[1]. HR. Al-Bukhari. Telah disebutkan takhrijnya.
[2]. Lihat al-Bidaayah wan Nihaayah (VII/55-56).
[3]. Dia adalah Ka’ab bin Mati’ al-Humairi, salah satu sumber ilmu dan salah seorang ulama besar dari kalangan Ahlul Kitab. Beliau masuk Islam pada zaman Abu Bakar ash-Shiddiq, datang ke Madinah pada zaman ‘Umar, kemudian tinggal di Syam, dan meninggal pada zaman kekhilafahan ‘Utsman Radhiyallahu anhu dan berumur lebih dari seratus tahun. Dia adalah orang yang banyak meriwayatkan Israiliyat, sebagian besar tidak shahih sanad kepadanya. Tidak ada satu riwayat pun baginya di dalam Shahiih al-Bukhari, sementara di dalam Shahiih Muslim ada satu riwayat Abu Hurairah darinya.
[4]. Musnad Imam Ahmad (I/268-269, no. 261), tahqiq Ahmad Syakir, dan beliau berkata, “Isnadnya hasan.”


4. WABAH THA'UN DI 'AMWAS [1]
Dijelaskan dalam hadits ‘Auf bin Malik yang terdahulu sabda beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam :

اعْدُدْ سِتًّا بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ...

“Ingatlah ada enam (tanda) sebelum datangnya hari Kiamat....”

Lalu beliau menuturkan di antaranya:

ثُمَّ مُوْتَانٌ يَأْخُذُ فِيكُمْ كَقُعَاصِ الْغَنَمِ.

“Kemudian banyaknya kematian yang menimpa kalian bagaikan penyakit [2] kambing.” [3]

Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Ada yang mengatakan, ‘Kejadian (dalam hadits) di atas muncul pada wabah penyakit tha’un amwas di zaman kekhilafahan ‘Umar, hal itu terjadi setelah penaklukan Baitul Maqdis.’”[4]

Pada tahun 18 Hijriyah menurut pendapat yang masyhur dari pendapat jumhur ulama [5] terjadi wabah tha’un di daerah ‘Amwas, kemudian menyebar di negeri Syam. Hal itu menyebabkan banyak dari kalangan Sahabat Radhiyallahu anhum dan yang lainnya meninggal dunia. Ada yang mengatakan bahwa jumlah yang meninggal mencapai dua puluh lima ribu jiwa dari kaum muslimin. Dan di antara orang-orang terkenal yang meninggal adalah: Abu Ubaidah ‘Amir bin al-Jarrah, kepercayaan umat ini" [6].

[Disalin dari kitab Asyraathus Saa'ah, Penulis Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil, Daar Ibnil Jauzi, Cetakan Kelima 1415H-1995M, Edisi Indonesia Hari Kiamat Sudah Dekat, Penerjemah Beni Sarbeni, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir]
_______
Footnote
[1]. ‘Amwas adalah sebuah daerah di Palestina sejauh enam mil dari Ramalah melalui jalur Baitul Maqdis.
[2]. قُعَاصٌ dengan qaf yang didhammahkan, disebut juga عُقَاسُ dengan huruf ain yang didhammahkan, dan huruf qaf yang ditakhfif sementara huruf akhirnya tanpa titik, ia adalah penyakit yang me-nyerang binatang, lalu dari hidungnya mengalir sesuatu sehingga ia mati tiba-tiba. Lihat an-Nihaayah fi Ghariibil Hadiits (IV/88) dan Fat-hul Baari (VI/278).
[3]. HR. Al-Bukhari dan telah terdahulu takhrijnya.
[4]. Fat-hul Baari (VI/278).
[5]. Lihat al-Bidaayah wan Nihaayah (VII/90).
[6]. Lihat Mu’jamul Buldaan (IV/157-158), dan al-Bidaayah wan Nihaayah (VI/94).

Jumat, 01 Maret 2024

OWOJ (One Week One Juz)

 


OWOJ (One Week One Juz) adalah suatu gerakan mengajak membiasakan membaca (tilawah) memahami (tadabbur) Al-Qur’an bersama.

Program OWOJ mempunyai kelebihan mentadaburi Al-Qur’an melalui metode membaca Al-Qur’an dengan terjemahannya, agar kita bisa memahami yang pada gilirannya mengamalkan serta mensyiarkannya. Kelebihan lain dari OWOJ ini adalah membangun habluminallah (tilawah dan tadabbur), hablumminannas yang berprinsip pada membangun silaturrahmi (QS. 4:1) serta upaya mengamalkan (QS. 103:3), juga mengingatkan untuk membaca (QS. 29:45).
Kelebihan yang tidak bisa dipungkiri juga dalam OWOJ ini adalah upaya menghilangkan penyakit manusia yang sudah menjadi sunatullah yaitu lupa, terutama lupa akan perintah Allah S.W.T (QS. 20:115). Allah S.W.T menjelaskan manusia akan lupa jika tidak mempunyai keinginan yang kuat. Selain itu terdapat permisalan yang baik, bagi yang membaca Al-Qur’an karena Rosulullah pernah bersabda :”Permisalan seorang yang membaca Al-Qur’an bagaikan buah jeruk, baunya wangi dan rasanya lezat, sedangkan orang mukmin yang tidak membaca Al-Qur’an bagaikan buah kurma yang tidak ada baunya dan rasanya manis. Permisalan orang munafiq yang membaca Al-Qur’an bagaikan kemangi yang baunya wangi rasanya pahit. Sedangkan orang munafiq yang tidak membaca Al-Qur’an bagaikan labu yang tidak ada wanginya dan rasanya pahit”.(HR. Bukhari Muslim)
Wallahu alam bisshowab

Pesan Kholifah untuk bijak bersosial Media


"Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan kebajikan, dan berkata, “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim (yang berserah diri)?." (Fushshilat: 33)

Ayat ini mengajarkan untuk menjadi hamba Allah yang baik dengan menyebarkan dakwah, berbuat kebaikan, dan menyatakan ketaatan kita kepada-Nya.