*PENTINGNYA MENJAGA HUBUNGAN BAIK SESAMA HAMBA ALLAH*
Oleh : Ust. Supriono Hadi
قَالُوا يَا شُعَيْبُ مَا نَفْقَهُ كَثِيرًا مِمَّا تَقُولُ وَإِنَّا لَنَرَاكَ فِينَا ضَعِيفًا وَلَوْلَا رَهْطُكَ لَرَجَمْنَاكَ وَمَا أَنْتَ عَلَيْنَا بِعَزِيزٍ (هود:91)
Mereka berkata: "Hai Syu'aib, kami tidak banyak mengerti tentang apa yang kamu katakan itu dan sesungguhnya kami benar-benar melihat kamu seorang yang lemah di antara kami; kalau tidaklah karena keluargamu tentulah kami telah merajam kamu, sedang kamupun bukanlah seorang yang berwibawa di sisi kami." (Hud: 91).
Berangkat dari kisah Nabi syua'ib as yang dilukiskan oleh Allah SWT dalam Ayat Alqur'an diatas. Disini kita dapat lihat bahwa betapa pentingnya bagi seorang da'i atau seorang muslim untuk memiliki hubungan yang baik dengan siapapun baik dengan keluarganya atau dengan orang-orang disekitarnya, meskipun kafir yang dapat membelanya, dengan tetap berpegang pada *prinsip laailaahaillah* yang tidak boleh bergeser atau dirubah sedikit pun dalam diri orang yang beriman.
Dan pembelaan ini bermanfaat bagi da’wahnya. Tidaklah mungkin Rasulullah saw mendapatkan perlindungan dari Abu Thalib, kalau beliau tidak menjaga hubungan baik dengan bapak, saudaranya yang musyrik itu.
Dan juga peristiwa perlindungan oleh Al-Muth’im ini terjadi setelah bapak saudara Rasulullah saw - Abu Thalib - wafat. Sebelum itu, Rasulullah saw dengan suka rela menerima perlindungan dari Abu Thalib yang sampai akhir hayatnya tidak masuk Islam. Ketika Abu Thalib juga memberikan perlindungan kepada Salamah bin ‘Abdil Asad ra sekelompok orang dari Bani Makhzum datang kepadanya: “Wahai Abu Thalib, engkau telah melindungi anak saudara laki-lakimu Muhammad, mengapa kini engkau lindungi orang ini dari kami?” Abu Thalib menjawab: “Ia telah meminta perlindungan kepadaku, dan ia adalah anak saudara perempuanku. Bila aku tidak melindungi anak saudara perempuanku, maka aku juga tak akan melindungi anak saudara laki-lakiku.”
Pada saat Abu Bakar Ash-Shiddiq ra hendak berhijrah ke Habasyah menyusul saudara-saudaranya tercinta yang telah lebih dahulu hijrah, seorang tokoh musyrikin yang bernama Ibnu Ad-Daghannah menemuinya dan memberikan perlindungan kepadanya sambil berkata: “Orang sepertimu tidak boleh keluar dan dikeluarkan dari Makkah.”
Hatta Umar Al-Faruq pun mendapat perlindungan dari seorang musyrik bernama Al-‘Ash bin Wail As-Sahmi ketika Quraisy telah mengetahui keislamannya
Maka demikian tidaklah mungkin Al-Muth’im bin ‘Adi, Ibnu daghannah, al Ash bin wa'il assahmi bersedia memberikan perlindungannya kepada Rasulullah saw, abu bakar ash Shiddiq dan Umar Ibnul khattab jika tidak ada muamalah yang baik antara mereka.
Dan tidaklah penting bagi seorang da’i atau seorang muslim untuk mengetahui apakah pembelaan itu karena faktor kekeluargaan, kesukuan, pertemanan, ataukah sebab lainnya. Yang jelas perlindungan dan dukungan ini bermanfaat bagi sang da’i/muslim dan secara otomatis menjadi maslahat bagi gerak da’wahnya. Begitu pula betapa pentingnya sebuah jamaah memiliki hubungan muamalah yang baik dengan berbagai organisasi dan kelompok masyarakat terutama di dalam negeri. Dengan muamalah yang baik ini jamaah dapat lebih leluasa bergerak merealisasikan agenda da’wahnya dan mendapatkan pembelaan dari berbagai pihak yang telah merasakan husnul muamalahnya.
Dan kita yakin bahwa sunnatullah pasti akan terulang kembali.
Wa'allahu a'lam bish showwab


0 comments:
Posting Komentar